How to Select Your Partner Professionally?

Hari Senin lalu tepatnya tanggal 5 Juli 2010, saya mendapatkan kesempatan untuk mengkonsultasikan Usulan Penelitian Tesis. Saya dan seorang teman dibimbing oleh dosen pembimbing yang sama. Di hari itu, kami mendiskusikan materi yang kira-kira diperlukan untuk kelengkapan Usulan Penelitian Tesis kami masing-masing. Selain itu, dosen pembimbing juga mengoreksi argumentasi-argumentasi kami selama mempresentasikan Usulan Penelitian kami. Nggak heran kalau kami memang memerlukan koreksi itu karena kami juga sedang mempersiapkan diri untuk mengadakan seminar. Seminar ini semacam forum untuk menguji kualifikasi kami secara ilmiah.

Dosen pembimbing kami bilang kalau selalu akan ada peluang masukan dari berbagai sudut pandang dalam sebuah forum ilmiah. Jadi sebenarnya, sikap kita lah yang  menjadi perhatian pada saat itu. Sikap seperti apa?

  1. Kita terbuka dengan argumentasi orang lain, tapi nggak hanya menerima dan menyetujui sudut pandang orang lain.
  2. Kita juga harus bisa mempertahankan argumentasi kita, tentunya atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang logis. Kita harus berani mengakui keterbatasan pemahaman kita terhadap sesuatu karena kita berargumentasi sesuai pemahaman kita itu.

Ini mengingatkan saya pada masa remidial kasuistika yang lalu. Pengalaman saya melanjutkan studi profesi di salah satu kampus negeri di Kota Bandung ini memang berbeda dibandingkan pengalaman saya semasa S1 di Kota Malang dulu. Kalau dulu saya semacam punya rutinitas untuk menyimak dan mencatat penjelasan dosen di kelas, mengerjakan tugas sesuai batas waktu, ujian, dan mendapatkan nilai A pada hampir setiap mata perkuliahan, tapi tidak begitu kalau di kampus ini. Salah satu pengalaman yang paling mengesankan, ketika saya mendapatkan nilai C+ pada mata kuliah praktikum kasuistika. Pada saat itu, saya hanya merasa sudah melalui semester itu semaksimal yang saya bisa. Tapi saya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya membuat saya mendapat nilai itu dan harus mengulang mata kuliah yang sama di tahun berikutnya. Asumsinya, kalau saya sampai harus mengulang, itu artinya saya nggak cukup paham dengan materi.

Karena saya nggak merasa cukup paham dengan materi mata kuliah ini, saya cukup antusias untuk menyimak kembali penjelasan-penjelasan di kelas. Ternyata ada satu penjelasan, yang mungkin nggak berhubungan langsung dengan teknis pelaksanaan praktikum, tapi informasi ini semacam insight buat saya tentang sebab saya tidak lulus di tahun sebelumnya. Dan sikap lah yang menjadi masalahnya, nggak jauh berbeda dengan yang disampaikan dosen pembimbing saya tadi.

Wajar saja kampus ini menuntut mahasiswanya untuk bisa bersikap profesional. Namanya juga program profesi. Pasti harapannya akan mencetak lulusan yang profesional juga. Penjelasan soal sikap ini cukup logis untuk menjelaskan tentang profesionalitas.

  1. Sekarang, bagaimana seseorang bisa dikatakan profesional kalau dia hanya “mengikuti” apa kata orang lain. Kalau dibandingkan dengan penjelasan dosen pembimbing saya tadi, harapannya kita terbuka dengan sudut pandang orang lain. Tapi bukan berarti kita hanya membenarkan dan mengikuti pandangan-pandangan itu.
  2. Bagaimana juga seseorang bisa dibilang profesional kalau dia “kekeuh” mempertahankan argumentasinya walau sebenarnya dia sadar kalau itu salah. Itulah kenapa dosen pembimbing saya bilang berargumen secara logis.

Terus, apa hubungannya dengan memilih pasangan?

Pasangan yang saya maksud disini lebih ke arah intimate relationship. Bisa dibilang, soal memilih suami/istri lah! Dua hal yang berulang ada dalam tulisan ini (tentang sikap), juga berlaku buat kita yang sedang memilih partner.

Disini saya menulis sebagai perempuan. Perempuan yang akan menentukan calon suaminya, pasti akan memilih satu dari sekian banyak laki-laki di luar sana (terlepas dari kenal-tidak, atau dekat-tidak). Artinya, kita punya keleluasaan untuk menentukan pilihan kita kalau kita punya banyak perbandingan dari sekian banyak laki-laki yang kita temui di luar sana. Itulah kenapa ibu-ibu kita (khususnya ibuku) kasih kesempatan untuk banyak berteman, baik laki-laki ataupun perempuan, dengan maksud salah satunya seperti yang saya tulis tadi. Ini sejalan dengan koreksi pertama dari dosen pembimbing, dan juga informasi di mata kuliah kasuistika.

Setelah kita punya banyak kenalan dan teman, pergaulan kita pasti berkembang dan nggak hanya akan bertahan di suatu tahap. Pastinya kita berharap bisa melanjutkan hubungan khusus dengan salah satu laki-laki pilihan kita. Syukur-syukur bisa jadi pendamping hidup alias suami. Untuk bisa menetapkan satu pilihan buat seumur hidup, pasti kita perlu pertimbangan-pertimbangan yang logis karena biasanya kalau di masa-masa pacaran, fungsi emosional kita lebih dominan. Jadi, nggak heran kalau bapak ibu yang sudah lebih dulu dari kita selalu bilang “Makan tuh cinta!” karena memang sebenarnya cinta saja belum cukup.

Hanya karena dosen pembimbing mengoreksi cara saya berargumentasi dalam forum ilmiah, saya jadi teringat dengan proses menentukan pasangan hidup.

  1. Terbuka dengan berbagai kemungkinan. Tidak menutup mata dan hati untuk melihat dan menyadari kelemahan dan kekuatan orang lain di sekitar kita.
  2. Informasi yang kita dapatkan dari tahap 1 itu, jadi dasar buat kita mempertimbangkan banyak hal sebelum menentukan satu pilihan tertentu.

Powered by Tumblr. Theme arcoiris by Jon García