Apakah Kami Tim SAR?

wallpost facebook between Rema and I

Tahun ini, libur nasional untuk hari raya Idul Adha tepat pada hari Rabu (17/11) alias di pertengahan minggu. Saya, Rema, Ari, dan kebanyakan teman seangkatan di Program Studi Profesi Psikologi Universitas Padjadjaran memang saat ini masih dalam proses mengerjakan usulan penelitian tesis. Jadi hari kerja bagi kami adalah hari “bersejarah” dalam hidup kami untuk mengerjakan dan menyelesaikan perbaikan-perbaikan supaya bisa bimbingan dengan dosen. Alhasil! saya, Rema, dan Ari menjadi bagian dari beberapa orang yang nggak bisa merayakan hari raya bersama keluarga di kampung halaman.

Wallpost di hari Senin (15/11) sekitar jam setengah 9 malam antara saya dan Rema di salah satu situs jejaring sosial itu semacam obrolan tentang persiapan sholat Idul Adha yang biasa rutin dilakukan sekali dalam setahun waktu hari raya Qurban. Rema bilang kalau saya Idul Adha di Bandung, dia dan Ari ingin pergi sholat bersama saya. Kebetulan, saya memang sudah berencana sholat ied di Masjid Salman, depan kampus ITB. Jadi, saya sekalian memberitahu Rema tentang rencana itu. Supaya lebih jelas, pembahasan jadwal janji ketemu dilanjutkan via SMS.

Selasa sore saya dapat kabar dari Azis, adik kos yang kuliah di ITB, kalau Masjid Salman nggak mengadakan sholat Ied karena pelaksanaannya dialihkan ke Lapangan Campus Center (CC) ITB. Saya terus tanya tentang jadwal sholat, tapi memang nggak ada kepastian. Akhirnya saya kirim SMS ke Rema dan Ari untuk memberitahu soal ini, dan salah satu isi SMS saya mengajak mereka untuk ketemu di depan Hotel Sheraton (karena kos Rema dan Ari di Dago Pojok sedangkan saya di Perumahan DDK) jam setengah 6 pagi di hari Rabu itu supaya bisa naik angkot bareng. Semuanya disepakati, dan istirahatlah kami untuk mempersiapkan diri besoknya.

Dan inilah penampilan kami bertiga sebelum sholat ied dimulai

Dan inilah penampilan kami bertiga waktu hari Rabu pagi sebelum sholat ied dimulai. Kami bertiga sampai di tempat sekitar jam setengah 6 lewat, dan shaf (barisan) putri terdepan baru terisi beberapa jamaah. Pelaksanaan sholatnya sendiri dijadwalkan akan dimulai jam setengah 7. Jadi, kami bertiga mengisi waktu dengan membolak-balik rangkuman khutbah yang sudah dibagikan sebelumnya sama pihak panitia di gerbang masuk. Dan nggak ketinggalan, SESI FOTO-FOTO ini:

Meski begitu, Alhamdulillah, kami bertiga bisa menjalankan sholat ied dan juga mendengarkan khutbah (yang juga rangkaian dalam sholat Idul Adha) sampai selesai. Satu pesan yang berkesan buat kami dari isi khutbah adalah:

Belajar dan bekerja giat dengan mengorbankan sebagian hiburan duniawi yang berlimpah dan sangat mempesona nafsu, atau mengorbankan sebagian waktu tidur kalian untuk menempa diri adalah sebagian pengorbanan yang kalian lakukan untuk menjadi orang besar di masa datang.

Sebagai mahasiswa yang dalam waktu bersamaan sedang berusaha mengerjakan dan menyelesaikan salah satu tanggungan akademik, kami bertiga merasakan hal yang sama belakangan ini. Agak kepayahan dan bermalas-malas untuk menghadapi sesuatu yang berinisial “UPT”. Kami lebih sering ngantuk dan merasa kalau jam tidur jadi lebih panjang. Tapi khutbah pagi itu seperti mengingatkan saya, Ari, dan Rema untuk selalu berkontribusi lebih banyak lagi. Dan makna pengorbanan yang disampaikan dalam khutbah hari itu sepertinya melekat buat saya dan Rema (khususnya) karena sampai perjalanan pulang pun dia masih suka nyeletuk, “ini pengorbanan”.

Saya, Ari, dan Rema nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk foto-foto lagi mumpung masih di ITB. Apalagi, Ari ingin sekali difoto dengan background gedung CC. Dengan bermodalkan kamera handphone punya Ari dan juga Rema, jadilah foto-foto ini:

Tak ada lontong gulai kambing, lontong Padang pun jadi.

Tak ada masakan mama, masakan uda pun jadi.

Dalam perjalanan berangkat ke Lapangan CC Rabu pagi itu, kami bertiga melihat persiapan gerobak Lontong Uda Pero untuk berdagang lontong Padang di daerah Simpang Dago. Memang Lontong Uda Pero ini salah satu diantara banyak pedagang lontong dan ketupat sayur yang biasa ditemui setiap pagi di seberang Pasar Simpang Dago. Tapi seorang teman asli daerah Sumatera merekomendasikan Lontong Uda Pero ini karena bumbu dan rasanya yang khas Padang. Sejak melihat gerobaknya di pagi itu, saya, Ari, dan Rema berniat akan mampir sepulang dari sholat ied.

Benar saja! Dari jarak jauh meski dalam angkot, kami melihat kerumunan orang-orang yang sepertinya sedang antri. Dan melihat letak kerumunannya, di situ tempat gerobak Lontong Uda Pero mangkal. Kami sempat shock melihat kondisi seperti itu. Tapi mau apa lagi, kami tetap minta pak sopir untuk berhenti, dan kami pun ikut mengantri. Sekitar 2 sampai 3 orang antri di depan kami, tapi antrian di sisi lain juga tidak kalah “mengekor”. Kami menunggu kurang lebih 10-15 menit untuk mendapat 3 bungkus Lontong Pecel Telor beserta kerupuk dan keripik baladonya. Kami terus naik angkot lagi ke arah kos, dan saya sendiri memutuskan untuk ikut Ari dan Rema supaya bisa sarapan bersama di kos mereka. Waktu masih di angkot, Rema bilang “Pengorbanan nih… pasti nikmat makannya!” :)

Terimakasih buat Rema Rahma Suci dan Ari Aprilia yang sudah menjadi “keluarga” saya untuk merayakan hari raya Idul Adha 1431 Hijriah bersama-sama. Dan sepertinya, memang kami ini tim SAR! karena tulisan ini tentang Sanya Ari Rema.

Powered by Tumblr. Theme arcoiris by Jon GarcĂ­a